Ticker

6/recent/ticker-posts

ALTAIR

 

Altair

Pada suatu hari, ketika semua planet sibuk dengan garis edarnya masing-masing dalam suatu galaksi yang kian lama semakin tua, muncul bintang baru yang masih kecil bahkan sinarnya saja nyaris tak cukup untuk membuat dirinya dijuluki sebagai bintang. Tak seperti Matahari yang menjadi pusat tata surya bagi beberapa planet yang kita kenal saat ini seperti  Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Bintang ini lahir, karena hubungan Bumi, Sang Ibu Pertiwi dan Bulan  yang dulu pernah bersatu. Bintang ini merupakan bintang yang kesebelas hasil hubungan mereka. Mereka menamai bintang ini Altair. Walaupun masih muda dan sinarnya tak begitu terang, Altair suka berpetualang kesana kemari—antar planet—untuk mengumpulkan cahaya agar dirinya bisa diakui dan tentunya untuk menambah pengalaman.

Beberapa tahun berlalu, Sang Altair kini menjadi lebih berani dan lebih bersinar. Dukungan sang Bumi dan Bulan juga sangat besar. Sosok mereka yang selalu bersatu, berdampingan dan setia mendidik para bintang tak perlu diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan berhasilnya kakak-kakak Altair yang sudah bisa menjadi bintang bagi planet-planet lain, setidaknya  bisa menjadi bintang bagi Bumi, Sang Ibu Pertiwi.           

Masa muda Altair sangat gembira dan penuh warna karena dukungan kedua orang tua serta semangatnya untuk bisa menjadi seperti kakak-kakaknya. Namun, hal tersebut tak berjalan lama, karena Sang Bulan berpisah dengan Sang Ibu Pertiwi disaat Altair baru merasakan nikmatnya masa muda.

Karena hukum dan aturan dari Pemerintah Bima Sakti, Bumi dan Bulan terpaksa berpisah oleh jarak yang sangat jauh. Resah, marah, sedih itulah yang dirasakan oleh Altair. Kehilangan sosok ayah yang biasanya selalu menemani dan menjadi tempat berlabuh ketika ia lelah berpetualang. Kesedihan Altair tak hanya sampai disitu. Perasaannya semakin tidak karuan ketika Sang Ibu yang sekarang menjadi pelabuhan dalam melepas rindu, mengatakan bahwa ingin sekali menyusul Sang Ayah.

Awan gelap yang ditimbulkan oleh perpisahan Bumi dan Bulan, membuat sinar para bintang tak nampak, begitu pula Altair. Sedih, terpuruk dalam alunan melodi semesta yang kian menambah rasa rindu akan Sang Ayah. Karena apabila ada Bulan, maka para Bintang pun akan memunculkan sinarnya dengan lebih terang.

Hidup harus terus berjalan, Altair dan para saudaranya membuat kesepakatan siapa yang akan menjaga Bumi. Para kakak yang telah memiliki pekerjaan untuk menyinari dan bersinar di beberapa planet tak bisa lagi menjaga Bumi.

Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa Altair yang harus bersama Sang Ibu Pertiwi. Kakak yang ingin menjaga Sang Bumi, terkendala oleh tuntutan pekerjaan. Ya bisa lah, sesekali mereka sempatkan waktu untuk kembali.

Walaupun demikian, Altair tetap berusaha menjadi yang terbaik setidaknya bagi Sang Bumi. Segala cara telah ia lalui, banyak rasa telah ia cicip. Berbekal pengalaman semasa muda yang senang bertualang dan mencoba hal baru, apapun ia lakukan selama itu baik dan dapat digunakan untuk  menyambung hidup dan mengumpulkan sinar lebih terang.

Setelah banyak malam Altair lalui dengan perasaan yang sangat tidak nyaman dan awan gelap tak kunjung hilang dari pandangan, akhirnya ada satu malam di mana Sang Bulan menampakkan sosoknya dan membuat awan gelap tadi menghilang.

Sang Bumi pun turut senang. Walaupun tidak lagi bersama, setidaknya masih bisa memandang walau dari jauh. Altair sangat senang. Ketika sosok Bulan yang menemaninya sejak dulu, muncul kembali. Ia pun ikut bersinar terang ketika Sang Bulan menampakkan sosoknya.

Keesokan malamnya, ia ingin bersinar lagi. Tetapi, awan gelap kembali muncul. Altair kembali murung. Mempertanyakan kabar Sang Bulan, di mana beliau sekarang? Kenapa tak datang lagi? Kenapa hanya singkat sekali, hanya satu malam setelah ia lewati 29 hari dengan malam berawan kabut kelam?

Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan Bumi. Ia ingin mencari pengalaman dan pengetahuan sebanyak-banyaknya agar dapat bersinar terang setiap hari tanpa bantuan Sang Bulan. Penuh pertimbangan, sebelum akhirnya ia berani mengungkapkan maksud hatinya pada Sang Ibu Pertiwi. Berharap semua dapat berjalan sesuai yang ia maksud.

Dini hari, ketika Bumi dalam keadaan tenang dan sedang luang dari yang namanya pekerjaan yang melelahkan, Altair memberanikan diri untuk mengatakan maksud dan tujuannya kepada Bumi. Setelah mendeskripsikan maksud dan tujuannya, Sang Bumi pun menyetujui hal tersebut.

Keesokan paginya, Altair pergi dari Bumi menuju Mars. Setelah terbang cukup lama, akhirnya ia sampai di sana. Ia langsung mencoba bersinar seperti yang ia lakukan di Bumi. Kondisi di sana sangat berbeda dengan yang ada di Bumi, tidak ada awan gelap yang menyesakkan dan meninggalkan pilu. Hal tersebut karena angin yang bertiup sangat kencang sehingga menyingkirkan awan gelap yang menjadi musuh utama sang Bintang Altair untuk bersinar.

Dari apa yang ia lakukan di sana, membuat ia sadar dan bersyukur bahwa apa yang ia cari saat ini bukanlah mengejar Bulan yang telah hilang. Ia harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar, bahwa ketika tidak ada Bulan pun ia bisa bersinar karena bantuan Angin yang menghapus awan gelap yang menimbulkan rindu yang berujung pilu.

Ia pun memutuskan untuk kembali ke Bumi dan langsung mencari angin-angin yang sejati untuk membantunya mewujudkan impiannya bersama-sama.

 

Ditulis oleh:

Muhammad Wildanul Atqiya

Kader HMI Undip

Posting Komentar

1 Komentar